bahwasanya tafakur termasuk amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, tafakur sesaat lebih baik dari pada ibadah setahun.
Tafakur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal yang dicintaiNya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana'ah, dari penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju kesembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli, dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan,(Miftah Daris Sa'adah: 226).
Rasulullah saw,pernah bersabda, tafakkuruu fii khalqillahi wa laa tafakkaruu fiillahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.
Karena itu, Rasulullah saw,menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta'ala.
Agar tujuan itu tercapai.
Rasulullah saw, memberi rambu-rambu agar kita tidak salah dalam bertafakur.
Rasulullah saw, memerintahkan kita untuk bertafakur mengenai makhluk ciptaan Allah swt, beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Allah bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan.
Firman Allah swt :
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalanKu, ia akan dibuka jalan (Ilham) baginya, sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,(Al-Ankaabut:69)
Kekuatan kerohanian akan datang sendiri tanpa diminta-minta karena kerohanian mereka telah tenggelam dalam kota Allah swt, inilah yang disebut oleh Allah swt dalam satu hadis Qudsi:
Barang siapa yang berada dalam kota-Ku, Aku adalah penjaganya.
Tidak aku jadikan manusia melainkan untuk menyimpan rahsia-Ku dan sesungguhnya manusia itu rahsia-Ku dari Akulah yang menjadi rahsianya(Hadist)
untuk membina kembali potensi Ruh kepada mengenal Tuhannya,apabila disebut mengenal Tuhan, maka terbagi kepada empat bagian:
Mengenal secara Taqlid yaitu mengenal Allah hanya pada nama tidak mempunyai pengetahuan yang mantap tentang ilmu KeTuhanan.
Mengenal secara ilmu yakin ,Martabat Syariat:yaitu mengenal Allah dengan jalan mengenal wujud makhluk yang seperti ini bagaimana mengikut cara ilmu usuluddin,Martabat ini adalah ibarat kenal buah pisang melalui kulit lahir saja.
Mengenal secara Ainul yakin Martabat Makrifat:yaitu mengenal Allah dengan jalan hadir pengetahuan rasa (dzauk) ke dalam hati,ibarat kenal isi pisang setelah dikoyak kulit tetapi belum dimakan (dirasa)
Mengenal secara Haqqul yakin Martabat Hakikat:yaitu mengenal Allah dengan jalan hadir kedalam hati rasa syuhud yang ada kemanisan dan kelezatan, ibarat dapat merasa kelezatan pisang itu setelah ia dapat mengecap isinya,Keimanan yang dicapai melalui ilmu ini hasil dari pada musyahadah, yakni hatinya senantiasa berpandangan dengan Allah Ta'ala pada setiap masa,Inilah iman yang haq,yang lebih tinggi kedudukannya dari iman 'Ainul Yakin.
Ruh itu adalah diri kita yang sebenarnya,yang kita harus tahu mengenai sifat-sifatnya dan asal usulnya karena (ruh) inilah yang akan kembali kehadirat Allah, dan bukannya diri jasad ini.
Jasad hanya menjadi pembungkus diri batin yang sifatnya (mahdas) dan akan hancur ditelan bumi.
Pembersihan Ruh yang tidak melalui jalan kenabian tidak akan membawa manusia kepada makrifat, tetapi akan membawanya kepada bentuk khayalan di alam rohani yang di cipta oleh jin dan syaitan.
dalam tafakur kita seharusnya banyak berzdikir terusin di hayati dalam-dalam sampai ke Allahnya bukan pada namanya saja, jangan di pikirkan karena akan memberatkan untuk sampai pada tujuannya.
di layani saja tanpa berusaha untuk berfikir karena ini akan terhenti limpahan masuknya, berpikir masih bermain-main di akal sadar sedangkan masuknya ke batin atau ruh kita yang di pancar dari sirr.
jadi tafakur adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu ikatan saja yaitu tafakur mengenai Dzat Allah ,tafakur seperti ini bukan tafakur hasil dari pada pikir tetapi hasil dari pada Siir ,maka di sebut tafakur sesaat lebih baik dari pada ibadah setahun karena kekal keberadaannya itulah buah tafakur yang sebenarnya.
Diamlah sejenak itu lebih baik dari pada berbicara...
...wa'alaikum salam...
Tiada ulasan:
Catat Ulasan