Catatan Popular

Rabu, 21 Mac 2012

Menuntut Ilmu Ketuhanan yang Tulin..

Bismillahirahmanirrahim,

Salam dan selawat kepada junjungan Nabi saw dan Ahlul bait dan keturunan yang suci dan dikasihi, Para Sahabat Radiyallahuanhum yang setia dalam perjuangan, serta rahmat Allah swt keatas seluruh umat muslimin muslimat, dan mukminin mukminat.

Ilmu Ketuhanan adalah ilmu yang membicarakan tentang ketuhanan Allah Ta'ala yang merangkumi keesaan ZatNYA, SifatNYA, Asma'NYA dan Af'alNYA. Ia juga dikenali sebagai Ilmu Tauhid, (ilmu mengesakan Allah ) Ilmu Usuluddin (Ilmu Dasar Agama) , ilmu Makrifat (Ilmu Mengenal) ilmu Kalam, (Ilmu Permahasan) ilmu Hakikat (Ilmu Haq/kebnaran) ,Ilmu Tahkik (Ilmu Penetap), Ilmu Aqa'id (Ilmu Simpulan Iman)dan sebagainya. 

Orang-orang awam sering kali terkeliru apabila menyebut Ilmu Makrifat sebagai ilmu yang sudah terlalu tinggi dan tak perlu dipelajari oleh mereka-mereka yang di tahap awam. Pendapat itu salah. Sebab hukum mempelajari ilmu ketuhanan itu wajib bukannya sunat . Cuma kita perlu mengetahui had-had pembelajaran di tahap fardhu ain itu berbeda dengan pengetahuan di tahap fardhu kifayah.

Ilmu Makrifat ditahap fardhu ain membicarakan sifat-sifat yg wajib, mustahil dan harus bagi Allah Ta'ala serta sifat-sifat yg wajib , yang mustahil dan yang harus bagi Rasul. Ilmu Makrifat di tahap fardhu kifayah termasuklah pembahasan ilmu kalam yang dapat menghujjah kaum-kaum ahli bid'ah dan golongan-golongan atheis dan penentang ilmu ketuhanan. Ilmu Makrifat di tahap para-para Sufi dan Aulia'-Aulia' Allah ianya mengesakan Allah Ta'ala dalam fana baqobillah. Maka perlu diketahui had-had ilmu itu dan dituntut secara berperingkat-peringkat menurut kadar kemampuan seseorang. Allah swt tidak membebankan hambaNYA dengan perkara-perkara yang kita tidak berkemampuan.

Ilmu Makrifatullah adalah intipati dari kalimah Laailahailallah. Pengajian sifat 20 adalah asas kepada mengenal Allah dan tidak dapat tidak, kita wajib dan perlu mempelajarinya dan ianya termasuk di dalam ilmu fardhu ain bukan fardhu kifayah. Sabda Nabi saw bermaksud, "Menuntut ilmu itu fardhu bagi tiap2 muslimin dan muslimat." dan Ulama Usuluddin mensyarahkan Ilmu yang fardhu ain ini termasuklah 3 ilmu yang asas yaitu usul , fiqih dan tasawuf. Maka barangsiapa meninggalkan tuntutan menuntut ilmu yang fardhu ain ini bermakna meninggalkan kewajiban menuntut ilmu dan dia termasuk di dalam golongan orang yang berdosa meninggalkan kewajiban menuntut ilmu dan beramal tanpa ilmu menjadikan amalannya sia-sia. Beramal tanpa ilmu adalah sia-sia , berilmu tanpa amal juga sia-sia. 

"Awwaluddin Makrifatullah" , Ahli hadis tidak menyebutnya sebagai hadis sahih akan tetapi Imam Ali as pernah menyebut kata-kata ini di dalam ucapannya yg terkumpul dalam "Nahjul Balaghah". Walau apa pun itu lah isyarat paling penting di mana permulaan dari pada mempelajari agama adalah dengan mengenal Allah Ta'ala. Pengenalan kepada Allah Ta'ala adalah berbeda-beda mengikut tingkatan kefahaman masing-masing. Kita tidak boleh menyamakan kefahaman orang awam dengan kefahaman para nabi dan para wali. 

Mempelajari ilmu Tauhid ini termasuk di dalam ilmu fardhu ain di samping ilmu fiqih dan tasawuf. Setelah selesai mempelajari ilmu ini baru disusuli dengan ilmu-ilmu yang lain. Inilah kaedah yang d iikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini. Tradisi semacam ini sudah ada dari masa Rasulullah, sebagaimana dikatakan sahabat Ibn 'Umar dan sahabat Jundub:

“Kami -selagi remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah keimanan kami". (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).

Mengenal Allah Ta'ala adalah awal permulaan kita beragama, apakah mungkin kita membawa kehidupan beragama tanpa mengenal Allah? Akan tetapi kita telah lupa akan pesanan Nabi dan Imam Ali as yang sangat penting ini. Apabila ada manusia yang coba membuka persoalan mengenal Allah atau makrifatullah orang-orang kebanyakan sering memandang sebagai ianya tidak penting. Manusia Islam kebanyakannya mengenepikan ilmu-ilmu tentang makrifatullah ini sedangkan itulah ilmu asas yang menjadi asas pengajian pondok di masa silam.

Orang awam yang belum mencapai tahap wali seringkali membuat kesilapan besar mengambil kata-kata dan kalam-kalam sufi perihal Ketuhanan. Apabila bahasa-bahasa sufi ini difahami secara dohir dan cara kefahaman awam maka seringkali berlaku kesalahan fahaman yang bahaya dari segi aqidah. 

Ajaran Wahdatul ujud atau dikenali di Nusantara sebagai martabat 7 bukan mudah untuk difahami secara baca kitab atau mengaji ilmu hakikat. Martabat 7 adalah sebenarnya intipati rasa atau zauk para wali di tahap tertinggi dan hakikatnya adalah berbeda dan bukan seperti yang difahami dengan melalui tulisan dan kata-kata . Jadi tak perlu aku menerangkan apa itu Martabat 7 di sini sebab tak siapa dapat memahaminya kecuali sudah merasainya.

Mereka yang tidak memahami wahdatul wujud akan menolak bulat-bulat kononnya tidak ada nas dari Al quran. sedangkan mereka lupa tentang ilmu laduni dan ilmu mukasyaffah yang di terangkan kewujudannya di dalam Al Quran. Tidakkan mereka mengambil iktibar dari kisah Musa as dan nabi allah Khidir as ??? Maka janganlah kita ikuti dakyah mereka-mereka yang jahil murakkab ini , yakni berhimpun dua jahil, jahil akan dirinya dan jahil akan tuhannya.

Sedih sekali mereka-mereka yang belajar ilmu hakikat merasakan yang mereka sudah memahami sedangkan pepatah sufi mengatakan " Lam ya zuuk , wa lam ya'rif" Barangsiapa tidak merasai zauk tidak akan mengetahunya. Itu isyarat dari para sufi dan wali Allah kenapa tidak kita pegang. Banyak guru yang belum sampai ke maqam tersebut cuba mengajar anak muridnya , kalau seorang guru yang arifbillah dia tahu had pembelajaran yang sepatutnya diberi kepada anak muridnya. Tapi ini bukan alasan buat kamu untuk menolak mencari guru !!!!

Yang sebenar-benar tuhan itu adalah Zat Laisakamishlihi syaiun. Maka untuk mengenal zat Allah Ta'ala ialah dengan kita mengenal sifatNYA melaui jalan sifat, yakni sifat bagi Zat Allah Ta'ala. Sifat itu adalah Sifat bagi Zat Allah Ta'ala yang berdiri bagi Zat , tidak bercerai dengan ZatNya.

Alam yang baru ini sebagai tanda dan dalil wujudnya Zat Allah Ta'ala. Zat itu tidak boleh dikaji sebab aqal kita terbatas dan tidak mampu untuk mengkaji Zat , sebab itu hanya kajian Zat diharamkan dan dilarang keras oleh Nabi saw. Kajian Sifat tidak dilarang oleh Nabi saw maka mengapa kita pula yang melarang orang-orang yang mau mengenal Allah. Buktinya terdapat banyak ayat-ayat di dalam Al Quran yang menjelaskan tentang sifat bagi Zat Allah swt. 

Peringkat-peringkat mengenal Allah itu berbeda-beda menurut tahap seseorang . Ada yang dapat mengenal Allah Ta'ala dengan aqal semata-mata bagi orang awam. Dan ada yang dapat mengenal Allah dengan hati, jiwa, perasaan , ruh, dan sirr. Peringkat tertinggi adalah bagi Nabi saw diikuti oleh para2 Aulia' Allah sepertimana kisah , Zunnun al Misri rth. pernah ditanya tentang bagaimana memperoleh makrifat itu, beliau berkata :” ariftu rabbi bi rabbi” yang artinya aku mengenal Tuhanku dengan Tuhan. Karena mengenal Allah tidak akan bisa dengan logik dan akal, melainkan dengan hati sanubari yang bersih dan selalu di isi dengan Ismul 'Adzham (Asma' Agung Allah Ta'ala) 

Beliau mengatakan bahwa akhlak seorang arif billah adalah Allah Ta'ala dan orang yang arif billah akan bersifat seperti Akhlak Allah Ta'ala dan selalu menjaga perilakunya agar tidak terjebak dalam kenistaan dunia yang menghanyutkan dan menghinakan orang yang dekat kepada Allah. Jangan salah faham kenyatan ini sebab Nabi saw apabila ditanya kepada Saydatina Ummul Mukminin tentang akhlak Nabi saw , Aisyah ra menjawab , " Akhlak Nabi saw adalah Al Quran" . Maksud nya di sini mempunyai makna yang sama dengan Akhlak Allah kerana Al Quran itu Kalamullah.

Makna "Ariftu Rabbi bi Rabbi" itu "Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku" ialah mengenal Allah Ta'ala dengan pengenalan terus daripada Allah Ta'ala yakni dengan ilmu Allah. Ta'ala. Saat paling sempurna semasa hayat Nabi mengenal Allah Ta'ala adalah semata mikraj Nabi saw. Dan saat paling sempurna baginya adalah sejak azali awal kejadian Hakikat Muhammadiah dan juga selepas wafat Nabi saw. Ia adalah satu putaran makrifat yang sempurna dari awal hingga ke akhir hayat Nabi saw. Nabi telah menyempurnakan putaran makrifatnya dengan Allah Ta'ala secara mantap berdasarkan ayat "Innalillahi wainna ilahirojiunn". Makna ini aku sesuaikan dengan kefahaman orang awam. Makna hakikinya hanya mereka yang mengalaminya yang akan memahaminya.

Apakah kita telah menyempurnakan putaran makrifat kita dengan Allah Ta'ala ? Tanyalah diri masing-masing dan kamu tentu sudah tahu jawaban nya di mana kedudukan kamu. di sisi Allah Ta'ala. Adakah ilmu yang aku bicarakan ini sesat ??? Atau manusia kebanyakkan yang telah jauh tersesat dari landasan makrifatullah . Atau adalah manusia takut untuk mengenal Allah Ta'ala kerana tidak sanggup berjumpa dengan Allah membawa segunung dosa dan melupakan perjanjian dengan Allah di alam Nur dan alam Ruh? ...

Maka barangsiapa yang tidak menurut jalan Allah dan Rasul serta orang2 soleh adalah mustahil dapat menemui jalan tauhid ini. Ini lah siratul mustaqim yakni jalan makrifatullah , jalan yang lurus meluruskan kita kepada makrifatulah. Awaluddin makrifatullah, akhir agama dengan kalimah Laailahaillallah .


Berusahalah mencari guru-guru ilmu tauhid dan mendalami selagi nyawa dikandung badan. Semoga anda semua mendapat menafaat dari perbincangan yang sedikit ini ,

insyaallah.

Mohonlah petunjuk dari Allah Swt , diperlihatkan jalan untuk menghampirinya... Amin...
(Credit for ;- Wisnu Nuhkara)

2 ulasan:

  1. Salam :anda berkata benar:Saranan anda benar.Maka dalam fokus keilmuan makrifat ketuhanan yang haq seperti para wali dan rasul serta murid mereka itu saya ingin menambah khabar.

    Guru: Apabila zaman nabi maka jadikanlah nabi itu guru dan sahabat .Apabila zaman tokoh sufi hebat,maka jadikan mereka guru dan pembimbing.Maka zaman ini pun jadikan guru mursyid itu guru dan pembimbing walaupun mereka seakan pupus jumlahnya.Guru mursyid itu wali Allah yang terkanan dizamannya.Maka bukan semua guru tarekat zaman ini atau ustaz zaman ini adalah guru mursyid yang berkaitan jalan kewalian atau sufi dan makrifatullah itu.Seorang dua dari raus ribu guru macam-macam guru itu adalah guru mursyid.Guru mursyid ada pengalaman fanabilah diri.Maka ia boleh menemani muridnya yang fanabillah dengan baik.Boleh nmeyelesaikan kekaburan dalam kepastian ilmu dan penyaksian matahati.

    Kewujudan dan Tugas manusia: Fitrah dan biologi kehidupan manusia bermasayarakat,bekeluarga dan beragama dan bergiat mencari kehidupan serta keselamatan dunia itu adalah fitrah.Agama alah kepercayaan tauhid dan fekah adalah aturan dalam banyak hal.Ibadat berperaturan adalah disaran dan ditunjuk ajar dalam agama.A gama itu abstrak dan mistilk.Maka apakah kita ini diwujudkan kerana untuk fitrah atau untuk beragama atau untuk diadakan tanpa sebarang rancangan atau tujuan oleh penciptaan.Maka bukanlah untuk cerdik bodoh,miskin kaya ,lemah atau kuat dan bukan untuk hodoh atau cantik ,bukan untuk lapar atau kenyang atau sihat atau berpenyakit,bersih atau pengotor,Ini semua ukuran duniawi,Allah tetap menagih janjiNya bahawa roh kita di laam roh yang mewakili kita telah menyatakan kenal Allah .Maka mereka dizahirkan untuk menentukan janji mereka itu ditepati atau sebaliknya. Maka rasul dan agama itu adalah peringatan dan pertunjuk khas dari Allah.Maka kita sibuk melayani keperlaun fitrah maknusiawi.* jam tidur dan rehat 14 jam bekerja.30 minit ibadat dan berjam dalam perjalanan kesana kemari.Maka apakah kita menuntut ilmu yang berkaitan dengan tetap mengenal zat Allah dan sifatNya?.Dulu masa remaja kita kuliah agama secara langsung atau tidak langsung.Sekarang kita beklerja dan bertanggungjawab kepada pekerjaan dan keluarga. Kita tiada ruang masa untuk mengaji jalan tetap kenal Allah walau dizahirkan kasar.Maka kita dizahirkan khusus untuk terhijab dan membuktikan kita boleh membukakan hijab dan tetap m,emgenal Allah. Allah mahu tahu setiasp manusia dan jin itu mampukah mengenal dan berada pada sisi Allah sehingga akhir hayatnya .Allah amat suka oranmg yang tidak lalai janjinya itu .Allah membukakan hijab kepada yang tekun dan tabah dalam menuju Allah. Allah membiarkan berbilion manusia itu terpesona dan sesat dengan berbagai kegunaan ilmu serta keindahan duniawi.Maka itulah satu jenis hijab yang menyeluruhi manusia hadapi.

    Alah mentajalikan sifatNya dan menzahir kasar sifatNya.Maka yang dikatakan mahkluk itu adalah tajali dan zahir dari usul sifat Allah Taala sendiri.Maka Allah taala amat suka dan bangga sesiapa yang dapat mengenalNya.maka ia sep[erti Allah beribadat kepada Allah dan Allah mengenal Allah jua.

    BalasPadam